MIO Terapkan Pedoman Pemberitaan Media Siber di Seluruh Layanan
MIO Indonesia menetapkan Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai acuan bagi portal redaksi dan layanan agregator beritanya, termasuk mekanisme ralat, label konten berbayar, dan penanganan berita yang dicabut media sumber.
Keputusan itu diumumkan Pemimpin Redaksi MIO, Andi Prasetyo Nugroho, pada Senin (5/10/2026) di Jakarta, usai rapat redaksi bersama perwakilan media anggota yang digelar secara daring.
Andi menjelaskan, pedoman tersebut akan dipasang di menu utama dan halaman khusus sehingga mudah ditemukan pembaca. Setiap berita di portal redaksi juga wajib mencantumkan nama penulis dan kredit foto.
"Pedoman ini bukan hiasan di footer. Kami menjalankannya dalam alur kerja harian, mulai dari verifikasi sampai ralat," ujar Andi.
Ralat Ditampilkan Terbuka
Salah satu perubahan yang langsung terlihat adalah catatan ralat. Bila sebuah berita dikoreksi, keterangan koreksi beserta waktunya ditampilkan pada berita yang sama, bukan di halaman terpisah yang sulit ditemukan.
Untuk layanan agregator, Andi menyebut MIO akan mengikuti koreksi dan pencabutan yang dilakukan media sumber. Ringkasan berita yang dicabut oleh media anggota akan diturunkan disertai keterangan alasannya.
"Kami menyebarluaskan ringkasan berita media lain. Artinya, ketika media sumber mengoreksi, kami juga wajib ikut mengoreksi," kata Andi.
Ketua Umum MIO, Rahmat Hidayat, menambahkan bahwa konten berbayar, termasuk berita hasil kerja sama, selalu diberi label yang tegas. Menurutnya, pembaca harus bisa membedakan berita dan iklan tanpa perlu menebak.
"Kepercayaan pembaca adalah modal utama jejaring ini. Sekali hilang, sulit dikembalikan," tegas Rahmat.
Pembaca yang menemukan kekeliruan dalam berita MIO dapat menyampaikannya melalui surel redaksi yang tercantum di halaman Kontak. Permintaan hak jawab juga dilayani melalui saluran yang sama.
Media anggota diminta memastikan pedoman yang sama tercantum di situs masing-masing. Hal ini juga menjadi salah satu poin pemeriksaan dalam proses verifikasi media baru.
Rahmat berharap langkah ini mendorong media anggota saling mengingatkan bila ada berita yang perlu diperbaiki. Menurutnya, koreksi yang cepat dan terbuka justru menunjukkan redaksi yang bekerja dengan sungguh-sungguh.
