MIO dan Jogja Terkini Gelar Kelas Jurnalisme Data di Yogyakarta
MIO Indonesia bersama Jogja Terkini menggelar kelas jurnalisme data untuk jurnalis media anggota, membekali peserta dengan keterampilan mencari, membersihkan, dan menyajikan data publik menjadi berita yang mudah dipahami.
Kelas tersebut berlangsung pada Sabtu (26/9/2026) di Yogyakarta dan diikuti 20 jurnalis dari Jawa dan Bali. Peserta datang dengan membawa laptop dan satu ide liputan berbasis data dari daerah masing-masing.
Pemimpin Redaksi MIO, Andi Prasetyo Nugroho, mengatakan jurnalisme data penting bagi media lokal karena banyak persoalan daerah yang sebenarnya tercatat dalam dokumen anggaran dan statistik resmi.
"Data sering kali sudah tersedia untuk publik. Yang belum banyak adalah jurnalis yang mau dan mampu membacanya," ujar Andi.
Dari Tabel Menjadi Cerita
Selama sehari penuh, peserta belajar mencari data di portal resmi, merapikan tabel dengan lembar kerja, hingga membuat grafik sederhana. Sesi terakhir membahas cara menulis berita agar angka tidak menenggelamkan cerita.
Pemimpin Redaksi Jogja Terkini, Nurul Hidayah, yang turut menjadi pemateri, menekankan pentingnya memeriksa ulang setiap angka sebelum berita diterbitkan.
"Satu angka yang salah bisa membuat seluruh berita dipertanyakan. Karena itu, kami biasakan dua orang memeriksa data yang sama," kata Nurul.
Di akhir kelas, setiap peserta mempresentasikan rencana liputan. Beberapa ide yang muncul antara lain sebaran sekolah rusak, harga bahan pokok di pasar tradisional, dan ketersediaan angkutan umum di kota kecil.
Peserta juga dibekali panduan etika penggunaan data, terutama ketika data memuat informasi pribadi warga. Nurul mengingatkan bahwa tidak semua data yang terbuka layak dipublikasikan apa adanya, sehingga jurnalis tetap harus menimbang kepentingan publik dan perlindungan privasi.
Andi menyebut liputan terbaik dari kelas ini akan didampingi redaksi MIO hingga terbit di media masing-masing, lalu ringkasannya ditampilkan melalui layanan agregator MIO.
Pendampingan dilakukan secara daring selama dua bulan, mulai dari penajaman pertanyaan liputan hingga pemeriksaan akhir data sebelum berita terbit.
"Kami ingin kelas ini menghasilkan berita, bukan hanya sertifikat," pungkas Andi.
